Senin, 18 Februari 2019 | Selamat Datang di Website Kesbangpol...
 
 

Paslon Agar Jaga Integritas Pemilu

  • Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) meyakini bahwa Pemilu merupakan instrumen utama demokrasi yang menjadi ajang bagi rakyat sebagai pemilik kedaualatan untuk menimbang ulang atau memperbarui mandat politik yang diberikan kepada para pemimpin beserta wakil-wakilnya. Untuk itu, LIPI mengimbau peserta Pemilu, khususnya Pasangan Calon (Paslon) Presiden-Wakil Presiden untuk menjaga integritas Pemilu.

    “Para Paslon beserta tim sukses bersaing dengan jujur, sportif, dan bermartabat. Bangsa kita mendambakan hadirnya para pemimpin politik yang mampu memberi keteladanan dalam berbicara, berperilaku, dan bertindak,” kata Peneliti Politik LIPI, Wawan Ichwanuddin, saat Konferensi Pers ‘Mengawal Integritas Pemilu Serentak 2019’, di Gedung Widya Graha LIPI, Jakarta, Selasa (15/1).

    Wawan mengatakan, seharusnya para Paslon beserta tim sukses dapat memanfaatkan masa kampanye untuk beradu visi, program, dan alternatif kebijakan terbaik sebagai solusi atas beragam masalah bangsa. Menurutnya, masyarakat memerlukan visi dan gagasan yang cerdas untuk masa depan Indonesia.

    “Bangsa kita memerlukan visi dan gagasan cerdas namun realistis mengenai Indonesia yang lebih baik, adil, sejahtera, bermartabat, dan berdaya saing tinggi dari para Paslon yang berkompetisi dalam Pemilu 2019,” ujarnya.

    Kemudian, tutur Wawan, para Paslon beserta tim sukses harus mengupayakan kampanye untuk menarik dukungan pemilih dengan bijaksana, terutama mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan terhadap kehidupan masa depan bangsa. Menurutnya, Paslon harus memberikan pendidikan politik untuk mencerdaskan masyarakat.

    “Para Paslon seharusnya mengedepankan pernyataan politik yang mendidik dan mencerdaskan. Bukan sebaliknya, membodohi dan menguatkan sikap saling curiga antar golongan di masyarakat yang masih tersisa sejak Pemilu sebelumnya,” ucapnya.

    Wawan mengingatkan, terlalu besar biaya politik yang harus ditanggung negara, jika Pemilu akhirnya hanya berujung pada persaingan yang tidak sehat dan saling meniadakan di antara para pihak yang bersaing beserta para pendukungnya.

    “Bagaimanapun persatuan dan keutuhan bangsa kita jauh lebih utama dan berharga ketimbang sekadar perbedaan pilihan dalam Pemilu yang justru meninggalkan kebencian, permusuhan, dan luka politik di antara sesama anak bangsa,” katanya.

    Membangun Optimisme

    Sementara itu, Profesor Riset Pusat Penelitian Politik LIPI, Syamsuddin Haris, mengatakan bahwa calon pemimpin bangsa harus dapat membangun optimisme masyarakat, sehingga pubik akan percaya diri akan masa depan Indonesia yang lebih maju.

    “Tugas pemimpin membangun optimisme. Itu tugas pemimpin di manapun, supaya publik tidak putus asa dan mudah kecewa. Bagaimana membangun optimisme, dengan agenda kebijakan. Makanya menjadi penting apa agenda kebijakan untuk mengatasi supaya Indonesia tidak punah. Apa yang dibutuhkan supaya Indonesia menjadi jauh lebih maju, tidak miskin lagi, dan punya daya saing,” paparnya.

    Selain itu, Syamsuddin mengingatkan masyarakat harus waspada akan upaya delegitimasi proses dan hasil dari Pemilu. Menurutnya, hal tersebut sangat berbahaya bagi demokrasi karena dapat dimanfaatkan oleh pihak yang kalah dan tidak siap kalah.

    “Yang kita khawatirkan adalah ini kalau disengaja, dampaknya luar biasa akan membuka peluang delegitimasi proses dan hasil Pemilu dan disalahkan oleh pihak-pihak yang tidak siap kalah untuk tidak mengakui hasil Pemilu,” pungkasnya.


    Files Download :

Related Posts