Sabtu, 19 Januari 2019 | Selamat Datang di Website Kesbangpol...
 
 

Politikus Belum Siap dengan Narasi Kebenaran dan Kejujuran

  • Pengamat Politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin menilai, politikus belum siap dengan narasi kebenaran dan kejujuran. Pasalnya, narasi kebenaran dan kejujuran belum tentu memberikan dampak elektoral.

    "Para politisi dan kita semua belum siap dengan menarasikan kebenaran dan kejujuran. Jika politik diisi oleh wajah kemunafikan, maka yang terjadi hoax yang berkembang," ujar Ujang saat dihubungi, Jumat (4/1).

    Ujang mengatakan, di satu sisi, para peserta Pemilu 2019 menyepakati dan mendeklarasikan kampanye damai dan anti-hoax pada tanggal 23 September 2018 yang lalu. Namun, di sisi lain, oknum peserta pemilu justru malah menebar hoax dan kebencian.

    "Kata Bung Karno, tidak satunya antara perkataan dengan perbuatan," katanya.

    Lebih lanjut, dia menuturkan, penyebaran hoax ini bisa saja merupakan bagian dari strategi politik. Secara umum, kata dia, strategi politik terdapat dua bentuk, yakni membangun pencitraan para kandidat dan membusuki lawan politik.

    "Nah strategi membusuki lawan politik ini yang bisa saja dilakukan oleh para politisi untuk menjatuhkan lawan termasuk dengan menyebar hoax sebanyak-banyaknya," katanya.

    Ujang menilai, hoax ini tidak bisa dibiarkan dan sangat berbahaya bagi proses demokrasi. Bahkan, kata dia, hoax bisa memecah belah antara sesama anak bangsa. Karena itu, menurut dia, hukum harus ditegakkan kepada para penyebar hoax agar terjadi efek jera sehingga masyarakat yang lain tidak ikut dalam menebar hoax.

    "Jika hoax terus berkembang, lalu didiamkan, maka lambat laun bisa menjadi kebenaran. Karenanya hoax harus dilawan. Kita juga perlu membangun kesadaran para politisi agar menampakkan wajah santun, damai, penuh persaudaraan dalam berkampanye," katanya.


    Files Download :

Related Posts