Minggu, 24 Maret 2019 | Selamat Datang di Website Kesbangpol...
 
 

Parpol Koalisi Sulit Dapatkan Efek Presidensial di Pemilu 2019

  • Partai politik harus punya strategi yang jitu untuk lolos masuk ke parlemen di dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 mendatang. Mengingat, dalam pemilu 2019 digelar serentak antara Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres).

    Direktur Sinergi masyarakat untuk demokrasi Indonesia (Sigma), Said Salahudin, menilai, dalam Pemilu 2019, memang hanya ada dua parpol yang mendapatkan presidential effect. Dua parpol itu adalah PDIP dan Gerindra, yang mencalonkan capres dari kader internal. Sisanya, hanya sekedar memberikan dukungan.

    "Ketika di dalam Pilpres sesama parpol koalisi perlu saling mendukung dan menjadi kawan guna meraih kursi eksekutif, di Pileg mereka justru harus saling bersaing sebagai lawan untuk memperebutkan kursi legislatif," kata Said Salahudin, di Jakarta, Senin (12/11).

    Menurutnya, situasi yang rumit akan dihadapi parpol koalisi, terutama bagi parpol yang tidak berhasil mendudukan kadernya sebagai calon presiden (capres) atau calon wakil presiden (cawapres).

    Dikatakan, dari sejumlah hasil survei setidaknya sudah tergambar bahwa parpol-parpol koalisi tidak menerima embusan presidential effect. Hanya PDIP di koalisi Jokowi-Ma'ruf dan Gerindra di kubu Prabowo-Sandi yang mendapatkan keuntungan presidential effect tersebut.

    Menurut Said, salah satu parpol yang masih berkesempatan memainkan posisinya yang tidak memiliki capres kader internal adalah Partai Demokrat. Seperti yang tertuang dalam arahan Komandan Satuan Tugas Bersama Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) agar caleg Demokrat mengkampanyekan prestasi pemerintahan SBY.

    "Strategi yang diformulasikan oleh Partai Demokrat itu sebetulnya bagus. Strategi itu tergolong cerdik, tetapi rawan mendapatkan serangan lawan. Mereka dan juga parpol-parpol yang lain tentu perlu mencari cara untuk melepaskan diri dari situasi pelik Pemilu serentak," ungkapnya.

    Kondisi itu bisa terjadi lantaran Demokrat pernah punya pimpinan partai yang menjadi penguasa selama 10 tahun. Maka pencapaian di era SBY itulah yang diyakini akan pakai untuk mempengaruhi pemilih saat masa kampanye.

    "Sudah barang tentu, hanya pencapaian-pencapaian terbaik dari SBY saja yang akan mereka ingatkan kembali kepada Pemilih, guna dibandingkan dengan kinerja pemerintahan saat ini," ujarnya.

    Sayangnya, tidak semua parpol yang tergabung dalam dua koalisi lainnya tidak bisa meniru siasat Demokrat. Sebab, parpol-parpol itu tidak pernah punya kader yang menjadi presiden.

    "Memang ada Soeharto yang prestasinya bisa juga dijual oleh Partai Golkar dan Partai Berkarya. Tetapi Golkar jelas tidak mungkin menawarkan pencapaian Soeharto kepada Pemilih. Sebab, pemimpin koalisi dari kubu petahana justru penentang utama Soeharto," katanya.

    Di sisi lain, prestasi Soeharto tampaknya juga tidak akan berhasil ditawarkan oleh Partai Berkarya, sebab Soeharto bukan kader partai itu. Lagipula, merujuk hasil survei, masyarakat seperti belum menginginkan lagi masa seperti Orde Baru.

    Namun demikian, sekalipun strategi Kampanye Demokrat terbilang cerdik, tetapi gagasan itu memiliki celah yang bisa digunakan oleh pihak lain untuk membenturkan Demokrat dengan Prabowo.

    Dicontohkan, selama 10 tahun kepemimpiman SBY, Prabowo dan Gerindra secara konsisten mengambil peran sebagai oposisi. Jejak digital yang menggambarkan Prabowo dan Gerindra pernah menampik program-program SBY masih sangat mudah ditemukan.

    Ketika Demokrat hendak menjual pencapaian SBY, perbedaan pandangan yang pernah mengemuka diantara SBY dan Prabowo atau Demokrat dan Gerindra bisa saja dimainkan kembali oleh pihak-pihak tertentu untuk membenturkan teman sekoalisi itu.

    "Tetapi hal tersebut saya kira bukan menjadi persoalan besar, sebab dalam iklim pragmatisme politik saat ini, problem semisal itu juga dialami oleh banyak partai yang lain. Yakni dulu lawan, sekarang teman, atau sebaliknya," ujar Dewan Pakar Pusat Konsultasi Hukum Pemilu itu.


    Files Download :

Related Posts