Senin, 19 November 2018 | Selamat Datang di Website Kesbangpol...
 
 

Partai Perlu Kedepankan Kampanye Bernuansa Kebangsaan

  • Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfarabi mendorong partai-partai peserta Pemilu 2019 mengedepankan kampanye yang bernuansa kebangsaan dan nasionalisme. Sebab, hampir 70% pemilih Indonesia merupakan pemilih nasionalis.

    "Ini menjadi tantangan partai yang berideologi agama karena jika mereka fokus pada isu-isu agama, maka mereka hanya memperebut 30% suara pemilih," ujar Adjie, saat dihubungi, di Jakarta, Rabu (31/10).

    Tak heran, kata Adjie, hasil-hasil survei selalu mengunggulkan partai-partai tengah atau bercorak nasionalis di peringat teratas, seperti PDI-P, Golkar dan Gerindra. Bahkan, kata dia, tiga partai sudah menguasai 50% suara pemilih.

    "Praktis, 50% suara pemilih sisanya direbut belasan partai peserta pemilu lainnya. Dari situ sekitar 25 sampai 30% suara pemilih merupakan suara pemilih bercorak agama yang akan direbut oleh PKB, PPP, PAN, PKS, dan PBB. Jadi, mereka berjuang mati-matian," katanya.

    Menurut Adjie, mau tidak mau, partai-partai peserta pemilu 2019 harus bekerja keras dan menggunakan metode-metode yang kreatif untuk menggaet suara pemilih. "Materi-materinya juga harus diperhatikan, isu-isu kebangsaan, nasionalisme, lapangan kerja harus diangkat dibandingkan isu agama atau SARA karena tidak terlalu berlaku di Pemilu 2019," ungkap dia.

    Lebih lanjut, Adjie menyebutkan, tiga faktor yang mempengaruhi kemampuan partai bisa lolos 4%  di Pemilu 2019. Pertama, soliditas partai atau kekuatan mesin partai. Semakin solid partai berarti semakin kuat mesin partai untuk bergerak dan menggaet suara pemilih.

    "Kedua, basis partai yang kuat. Umumnya, PDI-P, Golkar, Gerindra dan PKB sudah mempunyai basis massa yang jelas,"katanya.

    Ketiga, kata dia, asosiasi partai politik dengan calon presiden dan wakil presiden karena Pemilu 2019 merupakan pemilu serentak antara Pemilu legislatif dan Pemilu Presiden. Semakin kuat asosiasi partai dengan capres-cawapres, kata dia, maka potensi untuk menang sangat tinggi.

    "Misalnya, Jokowi diasosiasikan dengan PDI-P dan Prabowo diasosiasikan Gerindra, maka kedua partai ini akan diprediksikan mendapatkan keuntungan elektoral di Pemilu 2019," ucapnya.


    Files Download :

Related Posts

  • sample9

    Intelektual Berwawasan Kebangsaan Berani Berantas Korupsi

    Sebentar lagi masa depan bangsa Indonesia akan dipertaruhkan dalam pemilihan umum, dimana rakyat akan memilih langsung presiden untuk periode berikutnya. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah siapakah presiden kita selanjutnya?, dalam…