Kamis, 19 Oktober 2017 | Selamat Datang di Website Kesbangpol...
 
 

Rakyat Menanti Pemimpin yang Membawa Efek Kemajuan

  • Para calon kandidat yang akan bertarung dalam Pilkad serentak 2018 masih mempunyai kesempatan untuk menggalang kekuatan dan dukungan. Setelah terpilih, para pemimpin daerah itu diharapkan memiliki empati pada rakyatnya, dan menjalankan kepemimpinan yang membawa efek bagi kemajuan bersama.

    Pemimpin itu adalah sosok yang terbaik dan memiliki tanggungjawab besar . “Sosok tipikal seperti itu yang diharapakan dan harus hadir dalam kepemimpinan di daerah. Namun demikian beberapa kepala daerah sudah menunjukkan contoh terbaik bagaimana memimpin dan mengelola masyarakat dan sumber daya alam secara efektif,” ujar pengamat politik LIPI, Siti Zuhroh dalam perbincangan khusus dengan Koran Jakarta, di Kantornya, LIPI, Jalan Gatot Subroto, Jumat (6/10).

    Karena itu partai politik sebagai institusi yang memiliki banyak kader, harus mampu memilih calon yang akan diusungnya seprti yang diharapkan masyarakat. Apabila Parpol mampu menemukan sosok atau figur yang diharapkan itu, maka Parpol telah berhasil mencetak calon-calon pemimpin daerah yang kemudian nantinya juga akan menjadi pemimpin nasional.

    Dalam kondteks kaderisasi pemimpin itulah, Parpol harus menjadi rumah demokrasi untuk mencetak kader-kader yang akan menjadi calon pemimpin, dengan cara meningkatkan kualitas kader. Namun sayangnya, peran Parpol di Indonesia belumlah berfungsi secara transparan dan akuntable.

    Sebab ternyata Parpol belumlah melaksanakan tugas dan fungsinya mencetak kader partai yang mempunyai integritas. Banyaknya partai yang mengambil calon pemimpin tanpa memikirikan sosok atau figur yang dicalonkan itu mempunyai SDM yang mumpuni atau tidak. “Akhirnya setiap datang pemilu, datang akal.

    Siapapun yang menjadi kehendak masyarakat diambil, lalu apa fungsi parpol itu?,” tanya Siti Zuhro Dalam pengamatan Siti, kebiasaan Parpol setiap menjelang Pilkada maupun Pemilu, mereka selalu berfikir bagaimana mencari calon pemimpin hanya dengan melihat, popularitas, elektabilitas dan perhitungan menang atau tidaknya saja.

    “Padahal, untuk menjadi seorang pemimpin di pemerintahan, haruslah mempunyai integritas, kapasitas dan kapabilitas, bukan malah parpol memikirkan bagaimana mencari modal untuk memenangkan si calon.”katanya.

    Mahar Politik

    Dalam perbincangan, Siti juga menyinggung soal mahar politik yang praktiknya masih berlangsung. Masa awal demokrasi liberal belum dikenal mahar politik, namun politik transaksional itu muncul sejak adanya sistem multi partai yang belum memiliki standart sebagai aset penting demokrasi.

    Pola yang tidak standart ini, lanjut Siti, harus mengutamakan proses kaderisasi, mempromosikan kadernya secara politis, tidak boleh karena kekerabatan, memiliki banyak uang, sehingga integritas kader menjadi tergadaikan.

    Lalu partai harus menjadikan ketua umum partai sebagai manajer partai, ia harus bertanggung jawab terhadap maju mundurnya partai. Tidak boleh partai dikuasai oleh seseorang secara berkepanjangan. 


    Files Download :

Related Posts

  • sample9

    Kepemimpinan Perempuan Menguat di Akar Rumput

    Direktur Eksekutif Women Research Institute (WRI) Sita Aripurnami menilai kepemimpinan perempuan muncul dan menguat di tingkat akar rumput. Menurut Sita, kepemimpinan perempuan secara struktural pada sektor publik belum terjadi secara…
  • sample9

    Pemimpin Baru Harus Jadikan Indonesia Lebih Mandiri

    Visi Indonesia tahun 2025 ingin menjadikan Indonesia sebagai Negara yang Mandiri, Maju, Adil dan Makmur. Mandiri tidak berarti mengerjakan secara swadaya semuanya atau berdikari, namun lebih pada upaya meminimumkan ketergantungan…