Minggu, 17 Februari 2019 | Selamat Datang di Website Kesbangpol...
 
 

Selain Syarat Caleg, Sistem Pemilu Harus Diperbaiki

  • Terkait Rancangan Undang-undang (RUU) Pemilu, terdapat wacana untuk memperketat syarat caleg, khususnya dari kalangan artis, pengusaha, dan public figure. Disyaratkan, setiap caleg minimal 1 tahun jadi anggota parpol aktif sebelum dicalonkan. Terkait hal itu, beberapa partai politik (Parpol) selama ini secara khusus telah membuat sekolah kader dalam rangka perekrutan kader.

    ?Sekretaris Badan Pendidikan dan Pelatihan Pusat (Badiklatpus) dan Sekolah Partai PDI Perjuangan, Eva Kusuma Sundari, mengatakan, pihaknya melaksanakan sekolah partai karena menyadari bahwa tugas utama parpol adalah menyiapkan calon pemimpin nasional.

    "Mesti disiapkan, terutama yang di parlemen dan pemerintahan. Jadi PDIP punya Badiklatpus untuk kader-kader di struktur, dan Sekolah Partai untuk calon kepala daerah yang tugas di pemerintahan," jelas Eva Sundari, Rabu (24/8).

    PDIP menerapkannya dengan memakai pendekatan tiga pilar partai. Dimana ideologi diejawantahkan dalam kerja-kerja kader yang berada di Struktural Partai-Eksekutif-Legislatif.

    "Kalau pemimpin nasional ini tak disiapkan, bagaimana mau mentransformasi masyarakat sesuai ideologi Pancasila? Karenanya, PDIP serius menyelenggarakan pendidikan ke dalam dan keluar. Sehingga, stok kader yang disiapkan cukup dengan kapasitas dan kapabilitas plus praksis melayani rakyat?," jelas Eva.

    Namun dalam konteks nasional, sistem pendidikan demikian kerap kali menjadi porak poranda ketika pemilihan umum dilaksanakan. Sebab sistem pemilu yang dibangun masih sangat akomodatif kepada yang kaya dan popular. Padahal yang demikian belum tentu punya passion serta kapabilitas mengurus rakyat.

    "Sistem sekarang ini memang dimaui oleh parpol-parpol yang tidak bikin pendidikan maupun mau mengurus organisasi, yang hanya aktif menjelang pileg tapi punya target jumlah kursi. Ya akibatnya lack of passion tadi meski pintar, popular, dan kaya," jelas Eva.

    Ditegaskannya, problemnya adalah di sistem pemilu. Sehingga walau syarat caleg diperketat, tetap saja masih belum mampu memenuhi kebutuhan Indonesia akan calon pemimpin yang tidak hanya kapabel, tapi juga harus punya passion dalam mengurus rakyat, kata Eva.

    "Jadi, pengetatan syarat caleg itu bagus. Tapi tidak menjawab persoalan karena isunya seharusnya adalah membenahi parpol yang mau instan serta tidak mau melaksanakan tugas pokoknya menyiapkan calon pemimpin nasional," jelas Eva.

    "Bagi saya, harus ada sistem pemilu yang memaksa parpol berfungsi sesuai tupoksinya. Misalnya bisa saja dengan penerapan sistem proporsional tertutup, yang bisa menghasilkan negarawan asal demokrasi internal parpol bagus," bebernya.


    Files Download :

Related Posts

  • sample9

    Pengamat: Caleg Muda Meriahkan Pemilu 2014

    Pengamat bidang sosial politik, Ihsanudin Husin berpendapat, kehadiran calon anggota legislatif dari kalangan muda, sangat bagus untuk memeriahkan Pemilu 2014."Apalagi kalau calon anggota legislatif (caleg) muda tersebut memiliki kualitas dan…