Kamis, 21 Maret 2019 | Selamat Datang di Website Kesbangpol...
 
 

Presiden Sudah Berkomunikasi

  • Presiden Joko Widodo sudah berkomunikasi dengan sejumlah partai pendukungnya terkait rencana perombakan kabinet. Perombakan kabinet kali ini untuk membenahi perpecahan dan nuansa tidak kompak yang nyaris dua tahun terakhir mewarnai kinerja kabinet.

    Sekretaris Fraksi Partai Hanura DPR Dadang Rusdiana menuturkan, Ketua Umum Partai Hanura Wiranto bertemu dengan Presiden Joko Widodo, Kamis pekan lalu. Dalam pertemuan tersebut, yang dibicarakan Presiden dengan Wiranto antara lain seputar masalah perombakan Kabinet Kerja.

    Ia mengatakan, komunikasi antara Presiden dan partai-partai pendukung secara terpisah sudah mulai dilakukan. ”Memang tidak secara formal bersama semua parpol pendukung, tetapi Presiden sudah memanggil beberapa ketua umum secara langsung, seperti Pak Wiranto sudah diundang secara langsung untuk bicara tentang hal itu (perombakan kabinet),” ucap Dadang, Minggu (3/4), di Jakarta.

    Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, menjelang perombakan kabinet, Presiden telah berkomunikasi dengan sejumlah partai politik pendukung. Komunikasi itu merupakan cara Presiden memberi arah kepada partai pendukung agar pembicaraan tentang isu perombakan kabinet tidak berkembang liar.

    Pasalnya, saat ini banyak beredar spekulasi yang berbeda-beda tentang nama menteri yang diganti beserta penggantinya. ”Dengan berkomunikasi dengan sejumlah pimpinan partai, Presiden meluruskan isu-isu itu. Beberapa sudah dipanggil, seperti Pak Wiranto,” kata Hasto.

    Dadang juga mengatakan, Presiden menyampaikan beberapa hal terkait rencana perombakan kabinet, tetapi tidak sampai menyebutkan nama atau jabatan menteri yang akan diganti atau digeser.

    Lebih lanjut, sinyal yang ditangkap dari Presiden adalah kemungkinan diakomodasinya politisi dari partai politik yang baru memutuskan merapat ke pemerintah dalam struktur kabinet yang baru. Sejauh ini, ada dua partai yang sudah menyatakan merapat ke pemerintah secara resmi, yakni Partai Amanat Nasional dan Partai Golkar.

    ”Sudah ada tanda-tanda itu. Kami persilakan saja kalau memang ada pendatang baru dari parpol lain. Namun, seharusnya, kursi menteri dari partai politik tidak terkena dampak. Biar menteri profesional yang dikurangi,” ujar Dadang.

    Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmadi Noor Supit menambahkan, siapa pun yang digeser, perombakan kabinet kali ini bertujuan mengurangi adanya faksi-faksi dan ”suara miring” di internal kabinet. Dengan demikian, salah satu pertimbangannya adalah memilih orang yang dapat bekerja sama

    dan tidak ”bermain sendiri”.
    Menarik perhatian

    Isu perombakan kabinet oleh Presiden Joko Widodo ternyata cukup menarik perhatian para pengguna internet atau netizen beberapa hari terakhir. Sebagian netizen menaruh harapan agar Presiden bisa tegas membuat keputusan perombakan kabinet tanpa menghiraukan intervensi pihak lain.

    Di media sosial, seperti Whatsapp dan Twitter, hingga Minggu masih beredar pesan berantai ataupun tautan informasi mengenai daftar nama menteri hasil perombakan kabinet. Versi yang tersebar pun beraneka macam. Tanggapannetizen pun beragam. Ada netizen yang menginginkan menteri tertentu dipertahankan karena kinerjanya bagus, tetapi ada pula yang mengusulkan menteri tertentu diganti.

    Selain itu, ada pula netizen yang bertanya-tanya apakah perombakan kabinet itu benar-benar terjadi. Gun Sinaga, pemilik akun Twitter @0_gungun, mencuit ”Isu reshuffle kabinet Jokowi sepertinya makin menghangat, apakah ini jadi kenyataan…”. Sementara itu, Irianto Gultom, pemilik akun @IriantoGultom1, mencuit ”Presiden @jokowi, Bapak adalah PRESIDEN RI pemimpin utama kabinet. Selain itu, semua adalah pembantu anda, termasuk WAPRES. Tolong ini dipertegas!”.

    Menurut pengajar FISIP Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Gun Gun Heryanto, respons netizen atas isu perombakan kabinet itu harus diamati karena kendati kerap dianggap artifisial, dalam beberapa hal tertentu bisa menjadi representasi dari masukan publik. Dengan kata lain, hal itu menjadi cara publik menyuarakan persepsinya soal isu perombakan kabinet.

    ”Isu ini polanya acak sejak akhir tahun lalu. Sikap Presiden juga tidak terlalu jelas akan merombak kabinet atau tidak,” kata Gun Gun.

    Dia mengingatkan bahwa saat ini pemerintahan masuk dalam fase menentukan. Ini karena tahun kedua dan ketiga merupakan masa-masa akselerasi kinerja pemerintah. Presiden sebaiknya segera menegaskan apakah akan ada perombakan atau tidak. Hal ini penting untuk membuat kondusif kondisi psikologi politik para menteri sehingga mereka bisa fokus bekerja. 

    sumber : kompas.com


    Files Download :

Related Posts