Minggu, 18 November 2018 | Selamat Datang di Website Kesbangpol...
 
 

Petahana Tetap Kuat di Pilkada 2015

  • Fenomena yang muncul dalam pemilihan kepala daerah atau pilkada serentak pada 9 Desember 2015 tidak jauh berbeda dengan pilkada-pilkada sebelumnya. Pilkada serentak cenderung dimenangkan oleh petahana atau mantan kepala daerah sebelumnya.

    Pilkada 2015 seharusnya melibatkan 269 daerah yang terdiri dari kabupaten, kota, dan provinsi. Namun, karena Kalimantan Tengah dan delapan daerah lain ditunda pelaksanaannya, hingga 29 Desember hanya 260 daerah yang sudah memberikan gambaran pemenang pilkada. Dari total pilkada serentak yang dapat dipantau, petahana (mantan bupati/walikota/gubernur) memenangkan 31,2 persen. Jumlah itu hampir dua kali lipat dari pesaing terdekatnya dari kalangan anggota Dewan (DPRD/DPR/DPD) yang memenangkan 17,3 persen.

    Jika dilihat lebih dalam, lebih banyak calon petahana yang memenangkan pilkada daripada yang kalah, dengan perbandingan 57,9 persen dan 42,1 persen. Petahana yang berhasil mempertahankan atau meraih kembali posisinya sebagai kepala daerah lebih banyak terjadi di wilayah kota daripada kabupaten. Di kota, wali kota yang berhasil mempertahankan posisinya mencapai 47,1 persen, sementara di kabupaten hanya 28,1 persen bupati yang kembali meraih posisi sebagai kepala daerah.

    Peluang bagi kalangan pengusaha untuk masuk ke puncak kepemimpinan daerah tampak semakin terbuka dengan kian banyaknya calon (13,9 persen) dari kalangan ini yang meraih suara terbanyak. Mereka menggeser kedudukan politikus tradisional yang bersumber dari jabatan-jabatan di birokrasi pemerintahan dan menjadi penantang yang cukup berat bagi wakil-wakil petahana yang maju ke gelanggang pilkada. Di wilayah kabupaten, pengaruh pengusaha jauh lebih kuat daripada di wilayah kota. Di level kabupaten, terdapat 14,3 persen calon dari kalangan pengusaha yang berhasil meraih posisi kepala daerah. Sementara di wilayah kota, hanya 8,8 persen pengusaha yang berhasil menang.

    Selain latar belakang, hasil pemantauan ini menunjukkan bahwa koalisi partai masih sangat dominan dalam memenangkan pilkada. Tercatat, 86,2 persen kemenangan diraih oleh calon yang diusung koalisi partai. Sisanya direbut oleh calon independen (5,4 persen) dan partai-partai pengusung tunggal. PDI-P berhasil memenangkan calon yang diusung sendiri di 14 daerah atau 5,4 persen dari total pilkada. Partai berlambang banteng ini mengajukan 24 pasangan calon yang diusung sendiri. Selain PDI-P, partai-partai lain yang mampu memenangkan calonnya tanpa dukungan partai lain adalah Demokrat (2 calon), Nasdem (1), PAN (1), PKB (3), dan PPP (1). Partai Golkar sebetulnya mengajukan 14 pasangan calon yang diusung sendiri, tetapi semuanya kalah. Demikian juga dengan Gerindra, Hanura, dan PKS yang masing-masing mengajukan satu calon yang diusung sendiri tak memenangkan pilkada.

    Partisipasi cukup tinggi

    Dugaan bahwa pilkada tak lagi menarik untuk diikuti ternyata tidak terbukti. Tingkat partisipasi masyarakat dalam pilkada kali ini 68,5 persen. Hal itu cukup tinggi meski ada sejumlah daerah yang partisipasinya sangat rendah. Tingkat partisipasi terendah terjadi di Kabupaten Waropen, Papua, yang hanya melibatkan suara 12,3 persen dari daftar pemilih tetap (DPT). Sebaliknya, tingkat partisipasi tertinggi dicapai di wilayah Papua, yaitu Kabupaten Pegunungan Bintang (99,79 persen).

    Kemenangan rata-rata dari semua daerah tercatat cukup tinggi, yaitu 52 persen, meski di sejumlah daerah peraih suara tertingginya tergolong sangat rendah. Di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, misalnya, peraih suara tertinggi, pasangan Terkelin Brahmana dan Cory Sriwati Sebayang, hanya memperoleh 24,67 persen suara. Di kabupaten itu ada tujuh pasangan calon yang bersaing.

    Pilkada kali ini menunjukkan fenomena menarik dari segi gender. Peluang bagi kaum perempuan untuk memasuki wilayah politik dengan menduduki kursi pimpinan daerah tampak semakin terbuka lebar. Ada kecenderungan kuat pilihan politik masyarakat yang mendorong kemenangan mereka di beberapa daerah. Dari total 56 calon kepala daerah perempuan, sebanyak 24 orang (42,9 persen) berhasil memenangkan pilkada. Sebaliknya, dari 771 calon yang berjenis kelamin laki-laki, hanya 30,6 persen yang berhasil memenangkan pilkada. Tampaknya, kepercayaan masyarakat semakin kuat pada kepiawaian kaum perempuan memimpin setelah dalam periode sebelumnya pemimpin perempuan terbukti sukses memajukan daerahnya.

    Dalam pilkada kali ini juga ada fenomena menarik, yaitu pelaksanaan pemilihan kepala daerah yang hanya diikuti oleh calon tunggal. Tercatat, di tiga daerah, yakni Kabupaten Timor Tengah Utara, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kabupaten Blitar, pilkada terpaksa dilakukan dengan cara berbeda. Pemilih diminta mencoblos salah satu dari dua pertanyaan, "setuju" atau "tidak setuju" terkait calon tunggal itu menjabat sebagai kepala daerah. Hasilnya menunjukkan, di tiga daerah itu, para pemilih setuju calon tunggal tersebut menjabat sebagai kepala daerah.


    sumber : kompas.com


    Files Download :

Related Posts