Senin, 18 Maret 2019 | Selamat Datang di Website Kesbangpol...
 
 

Tak Ada "Chaos" di Pilpres 2014

  • Konsultan politik AM Putut Prabantoro menyatakan, tidak ada kekacauan (chaos) ataupun konflik horizontal dalam penyelenggaraan atau pasca-Pilpres 2014. Sebab, kedua calon presiden (capres)mencintai bangsa dan negara Indonesia sehingga tidak membiarkan terjadinya kekacauan akan terjadi.

    Selain itu, baik pasangan Prabowo Subianto - Hatta Rajasa dan Joko Widodo - Jusuf Kalla memiliki jiwa ksatria dalam memenangkan pilpres. Penjelasan tersebut untuk menjawab pertanyaan adakah peristiwa kekerasan intoleransi atas nama agama yang terjadi di Yogyakarta pada pekan lalu terkait dengan meningkatnya ketegangan politik pilpres.

    Dia menegaskan, bangsa Indonesia harus yakin bahwa penyelenggaraan pilpres pada Juli nanti akan berlangsung lancar, aman dan damai.

    "Saya meyakini bahwa sekalipun pada saat ini terjadi saling serang antarkedua belah pihak yang bersifat black campaign ataupun negative campaign, pilpres 2014 tetap aman dan damai. Sekalipun oleh banyak orang bahkan oleh orang yang katanya memiliki indera keenam, diprediksi situasi saling serang itu akan mendorong terjadinya konflik horizontal antara pendukung kedua capres-cawapres, tidak akan terbukti," ujar Putut Prabantoro, yang juga Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa), di Jakarta, Kamis (5/6).

    Putut berpendapat, konflik horizontal antarpendukung kedua capres hanya akan terjadi jika Bangsa Indonesia memiliki mindset seperti itu dan menghendaki negaranya hancur. Kekacauan sangat bisa terjadi ketika rakyat, KPU, Bawaslu, TNI, dan Polri juga memiliki mindset bahwa akan terjadi kekacauan dan konflik horizontal dalam pemilu pada Juli nanti.

    "Kita semua tidak menghendaki, bangsa dan negara ini terpecah-pecah, tercabik-cabik dan porak poranda karena Pilpres 2014. Jika kita semua termasuk para pendukung, calon pemilih, penyelenggara dan pengawas pemilu, aparat dan pemerintah mempunyai mindset seperti itu, artinya kita semua menginginkan bangsa dan negara ini hancur. Yang menjadi pertanyaan, pihak mana yang menginginkan negara dan bangsa ini hancur? Kalau ada, pihak mana? Internal atau eksternal?" katanya.

    Putut Prabantoro menerangkan, pilpres pada Juli 2014 adalah "perang" para ksatria yang memegang teguh sifat-sifatnya. Jika karena sesuatu hal, "perang" tanding ini berubah "perang tanding" yang berubah menjadi kekacauan atau konflik horisontal, itu artinya ada fungsi aparat keamanan yang tidak berjalan yakni intelijen.

    Oleh karena itu, katanya, kasus intoleransi di Yogya, tidak bisa serta-merta dikaitkan dengan pilpres karena hanya melihat dari permukaannya saja. Sebab, sebelum kejadian pekan lalu, ada beberapa aksi kekerasan intoleransi yang terjadi di Yogyakarta bahkan jauh sebelum pilihan anggota legislatif pada April lalu.

    "Saya tidak habis pikir dan miris juga ketika mendengar, sebuah keluarga harus bermusuhan dan bersikap saling menyerang. Jadi ini sebenarnya, masalah mindset. Kalau seluruh pemimpin bangsa yang terlibat dalam pilpres dan juga para pendukung kedua capres mengatakan pasti terjadi chaos, maka apa yang ditakutkan akan terwujud. Dan sudah bisa dipastikan, kalau terjadi konflik horizontal, semua pihak akan menyesal kemudian hari karena Indonesia sudah pasti terpecah belah. Antisipasi yang harus dilakukan adalah optimalkan peran intelijen dan sekaligus para pendukung, para aparat keamanan dan juga penyelenggara atau pengawas pemilu menghilangkan pikiran negatifnya," ujarnya.

    Kondisi dan situasi kampanye memang terasa panas karena yang terjadi adalah kedua belah pihak secara tidak sengaja saling membuka dan memperebutkan "Kotak Pandora" yang berisi "kejahatan" para pemimpin dan tokoh bangsa pada waktu yang lalu.

    Seluruh kejahatan, keburukan, sikap plin-plan, aksi jilat ludah para tokoh bangsa, yang dulu tak nampak dan yang tersimpan rapi dalam "Kotak Pandora" sekarang terbuka sedikit demi sedikit dan rakyat harusnya membaca itu.

    "Kita semua harus ingat ungkapan bijak yang mengatakan, kejahatan terbesar terjadi ketika orang baik tidak melakukan apa-apa saat ketidakadilan, ketidakjujuran atau kekerasan terjadi di depan mata. Artinya, kalau kita sebagai orang baik dan tidak melakukan apa-apa, sebenarnya kitalah yang melakukan kejahatan. Politik juga membutuhkan kejujuran, keadilan dan kelembutan," katanya. 


    Files Download :

Related Posts

  • sample9

    Debat tidak Pengaruhi Pilihan Pemilih Jelang Pilpres

    Debat tidak mempengaruhi pilihan politik masyarakat jelang Pilpres 9 Juli 2014.  Ini ditunjukkan oleh hasil poling dari Indikator Politik Indonesia sebelum dan sesudah debat.Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanudin Muhtadi,…
  • sample9

    Rakornas Dalam Rangka Pemantapan Pelaksanaan Pilpres Tahun 2014

    Pemilu merupakan salah satu pilar demokrasi sebagai wahana untuk mendapatkan legitimasi bagi sebuah pemerintahan.  Sehingga dengan demikian, pemerintahan yang dihasilkan dari pemilu diharapkan merupakan pemerintahan yang mendapat legitimasi yang kuat…
  • sample9

    13 Instruksi Presiden Soal Pelaksanaan Pilpres 2014

    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membuka Rakornas Pemantapan Pelaksanaan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014 di Sentul International Convention Center (SICC), Sentul, Jawa Barat.     "Pada kesempatan ini…
  • sample9

    Pilpres Butuh Restu Rakyat

    Koalisi PDI Perjuangan (PDI-P), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Nasdem yang mengusung…
  • sample9

    Profesionalisme Media Pada Pilpres 2014

    Terkait dengan momentum Pemilihan Presiden 2014, media khususnya media sosial memiliki peran yang cukup signifikan dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang sosok pemimpin Indonesia di masa mendatang. Pemimpin yang akan…
  • sample9

    Menciptakan Pilpres yang Demokratis dan Bermartabat

    Menjelang Pilpres 2014 berbagai trik dan intrik dilakukan calon presiden (Capres) melalui partai politiknya. Tidak ada kata menyerah, berbagai hal dilakukan dalam merebut parpol untuk berkoalisi agar memenuhi standar pencapresan.Capres…
  • sample9

    Survei Polling Center: 93,2% Beri Suara Saat Pilpres

    Kesadaran publik untuk mengikuti Pemilihan Umum 2014 kini semakin besar. Hal tersebut terlihat dari hasil survei Polling Center. Hasil survei itu menyebutkan, mayoritas masyarakat di Indonesia akan memberikan suaranya pada…
  • sample9

    RUU Pilpres Dihentikan Karena PT

    Anggota Baleg Fraksi PDI Perjuangan, Arif Wibowo menjelaskan, pembahasan revisi UU Pilpres menjadi kontraproduktif karena fraksi bersikukuh pada persoalan mempertahankan atau menurunkan angka presidential thereshold. "Yang tidak produktif itu thereshold.…
  • sample9

    Baleg resmi hentikan pembahasan revisi UU Pilpres

    Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyepakati untuk menghentikan pembahasan revisi Undang-Undang (UU) Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden (Pilpres).Dengan demikian, untuk pilpres yang akan datang tetap menggunakan UU Pilpres…
  • sample9

    Revisi UU Pilpres Resmi Dibatalkan

    Badan Legislasi Dewan Perwakilan Rakyat memutuskan untuk menghentikan rencana revisi Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Menurut Ketua Badan Legislasi, Ignatius Mulyono, keputusan ini akan…
  • sample9

    RUU Pilpres Diputus 3 Oktober

    Metrotvnews.com, Jakarta: Hasil lobi antarfraksi terkait menyepakati nasib revisi UU 42/2008 tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden akan diputuskan Kamis (3/10) dan dilakukan di tingkat Badan Legislasi.…