Jumat, 22 Maret 2019 | Selamat Datang di Website Kesbangpol...
 
 

Golput Bukan Pilihan Yang Baik Untuk Pilpres 2014

  • Dalam beberapa bulan kedepan, Indonesia akan menghadapi salah satu pesta demokrasi terbesar sepanjang sejarah tanah air. Dikatakan terbesar karena pesta demokrasi ini hanyak dilakukan selama 5 tahun sekali, dan sekaligus menjadi kali ke-4 bagi seluruh rakyat Indonesia untuk merasakan megahnya atmosfir suasana politik. Pesta demokrasi tersebut adalah Pilpres 2014. Sebelumnya, Indonesia telah berhasil menghelat pesta demokrasi legislatif yaitu Pemilihan Umum Legislatif yang mampu berjalan dengan sangat baik.Presiden Federal Jerman, Christian Wulff mengatakan, Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga didunia karena berhasil menjalankan sistem pemerintahan yang demokratis setelah India dan Amerika. Sebagai negara demokrasi terbesar ketiga didunia, Indonesia diagung-agungkan sebagai negara yang hebat karena berhasil melakukan demokratisasi dengan baik. Namun, menurut saya Indonesia masih gagal dalam menjalankan sistem pemerintahan yang demokratis. Kenapa? Karena tingkat partisipasi politik di Indonesia masih sangat rendah. Rendahnya partisipasi politik Indonesia tersebut dilihat dari tingginya angka golongan putih.
    Golongan putih adalah golongan masyarakat yang tidak menggunakan surat suaranya dalam memilih, sehingga surat suara tersebut menjadi terbengkalai tidak berguna. Tingginya angka golongan putih inilah yang menunjukan sistem pemerintahan demokrasi yang berjalan di Indonesia selama ini belum berjalan dengan baik.LSI mencatat bahwa, sejak tahun 1999 hingga tahun 2009, angka golongan putih terus meningkat dimulai dengan persentase 6,3%, 16%, hingga 30% pada tahun 2009. Fluktuasi tersebut menunjukan bahwa angka golput dalam setiap perhelatan pemilu selalu merangkak naik dengan persentase setiap periodenya mencapai 10%. Tingginya angka golongan putih ini dapat disebabkan karena tingkat kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap elit politik yang terus menurun, dengan menjamurnya kasus korupsi dan juga permasalahan lainnya. Ibaratnya, para kaum golongan putih menganggap bahwa untuk apa memilih apabila tidak ada calon yang pantas untuk dipilih. Pemikiran seperti ini ibarat tong kosong yang tidak berbunyi dan sudah sepatutnya diubah sejak dini. Kenapa?
    Golongan putih justru dapat menjadi boomerang bagi proses demokrasi dan negara itu sendiri. Negara dapat merugi hingga mencapai 3 Triliun Rupiah akibat golput. Timbul pertanyaan, Bagaimana bisa negara mengalami kerugian triliunan rupiah hanya dengan golput?. Pada umumnya, setiap pemilih dianggarkan oleh negara sebesar 60 ribu rupiah. Misalnya, Pemilu pada tahun 2009. Berdasarkan data yang diperoleh, jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) dalam Pemilu 2009 adalah 171.265.442 orang dan yang menggunakan hak suaranya hanya 121.588.366 orang. Berarti ada sekitar 50 juta pemilih yang menjadi anggota golput. Apabila dikalikan dengan besarnya anggaran yang dikeluarkan oleh pemerintah bagi setiap pemilih, maka negara telah mengalami kerugian hingga 3 Triliun Rupiah.Selain ancaman kerugian tersebut, tingginya angka golput dapat dimanfaatkan oleh kalangan elit politik. Bagaimana caranya? Sangat mudah, yaitu dengan sistem money politics. Pada dasarnya, masyarakat tidak mengetahui secara pasti jumlah anggota golongan putih yang sebenarnya..Inilah pemikiran yang harus kita tanamkan dan harus kita budayakan sejak dini. Say no to Golput! dapat kita bayangkan bagaimana ancaman laten yang bersembunyi dibalik budaya golput yang kita puja-puja selama ini. Apabila kita tidak lagi mempercayai pemerintah secara penuh, maka kita hanya perlu berusaha untuk mendalami mereka, carilah mereka yang paling pantas untuk dipilih. Tidak semua dari mereka itu adalah busuk. Oleh karena itu, gunakanlah surat suara kita secara bijak, pilihlah mereka yang pantas untuk dipilih, dan bongkarlah budaya golput!


    Files Download :

Related Posts