Senin, 18 Februari 2019 | Selamat Datang di Website Kesbangpol...
 
 

Kewaspadaan Publik Terhadap Kecurangan Pemilu Perlu Ditingkatkan

  • Semua pihak perlu mencermati proses pemilihan umum dan pemilihan presiden 2014. Sebab sejarah pemilu Indonesia dalam beberapa pelaksanaan terakhir memang penuh dengan dugaan manipulasi, yang diduga masih terjadi hingga saat ini.

    Menurut Pengamat Politik dari Lingkar Madani (Lima) Indonesia, Ray Rangkuti, peringatan akan pemilu yang bakal curang patut untuk terus disuarakan.

    "Sejarah pemilu dan pilkada di Indonesia tak sepi dari proses manipulasi. Dan faktanya di lapangan sekalipun ada pintu manipulasi itu," tegas Ray Rangkuti di Jakarta, Minggu (30/3).

    Dalam beberapa pemilu terakhir dan ratusan pilkada, kata Ray, terbukti selalu saja ada pihak yang merasa pelaksanaan proses pemilihan berlangsung dengan tak baik. Jauh lebih banyak contoh pemilu tak dilakukan dengan benar dibanding yang berlangsung sukses.

    Sebanyak 80 persen proses pilkada disengketakan ke Mahkamah Konstitusi, dan menjadi sinyal betap kuatnya indikasi bahwa pelaksanaan pilkada dimanipulasi sehingga potensial digugat.

    Dan faktanya, potensi gugatan pemilu 2014 sudah dapat terlihat sejak kini. Misalnya dalam isu Daftar Pemilih Tetap (DPT). Awalnya KPU menyebut data DPT fix sebanyak 186 jutaan. Belakangan justru berkurang menjadi 185 jutaan.

    "Klaim KPU soal nomor induk kependudukan atau NIK sudah beres. Aslinya, tak ada yang tahu," ujar Ray.

    Lalu ada pula daftar pemilih khusus dan tambahan, yang rawan dimanipulasi oleh parpol yang punya dana besar untuk mengerahkan massa pemilih dimana-mana.

    "Itu saja sudah jelas ada peluang kecurangan. Bagaimana nanti memverifikasi kebenaran DPT khusus dan tambahan?" ujarnya.

    Dugaan kecurangan lain adalah terkait masalah perhitungan dan rekapitulasi suara yang terkait dengan rentannya kecurangan di IT Pemilu. Belakangan, ujar Ray, muncul kesan adanya perlombaan untuk 'menguasai' proses perhitungan suara.

    "Jadi warning soal dugaan kecurangan pemilu 2014 itu memang signifikan," tandasnya.

    Sementara itu, Wasekjen PDIP Hasto Kristiyanto, menyatakan pihaknya mensinyalir ada dua pihak yang bisa melakukan kecurangan pemilu. Dia menyebutnya sebagai 'Bapak Megaloma' dan 'Ibu Nia', yang jika bertemu akan menjadi keluarga "Megalomania".

    "Itu adalah simbolisasi atas realitas bekerjanya kekuatan anti demokrasi. Kedua kekuatan itu merupakan pertemuan antara pihak-pihak yang ingin mempertahankan kekuasaan dengan mereka yang ingin merebut kekuasaan," tegas Hasto.

    Menurut Hasto, 'Keluarga Megalomania' itu dibangun dengan kekuatan pihak-pihak yang selama ini berlindung di belakangnya. Pihak-pihak itu mendapat balasan berupa kelimpahan rejeki melalui berbagai pergaulan dengan mafia impor, mafia senjata, dan mafia narkoba.

    Karena itulah tidak heran mengapa impor berjalan terus dengan skala masif, dan mengapa Pertamina dibuat tergantung dengan impor minyak. Hasto juga bilang itu alasannya kenapa Ratu Mariyuana asal Australia, Schapelle Leigh Corby, bisa mendapatkan grasi.

    "Mereka telah bermain jauh sehingga bisa mengatur jadwal kampanye. Partai-partai yang berpotensi membesar seperti PDI Perjuangan dan Nasdem, jadwal kampanye sering dibenturkan dengan regulasi baru yang dibuat oleh KPU daerah," beber Hasto.

    Para pihak itu juga diduga memiliki kemampuan membuat kotak suara dari kardus sehingga mudah dirusakkan dengan alasan kehujanan dan lain-lain. Juga merombak APBN sehingga tiba-tiba dana bansos naik dari Rp56 Triliun menjadi Rp91 Triliun.

    Sementara operasi intelijen bawah tanah juga digerakkan dengan 'kode-kode burung' telah dijalankan seperti 'Gagak Hitam', 'Alap-alap', dan 'Merpati'.

    "Mereka juga punya kemampuan menggembosi suara lawan. Maka Partai Golkar pun diserang dengan mengeluarkan video tamasya," imbuh Hasto.

    Di sisi lain, operasi melalui manipulasi DPT dan melalui IT terus berjalan. Matinya website KPU beberapa waktu yang lalu bukan kebetulan.

    Karena itulah PDI Perjuangan mengajak seluruh kekuatan pro demokrasi untuk bersatu. Keluarga "Megalomania" hanya bisa dihadapi oleh kekuatan rakyat. Partisipasi rakyat akan mampu memutar balikkan berbagai skenario antidemokrasi tersebut.

    Hasto melanjutkan pihaknya sudah mendengar bahwa kekuatan arus bawah pemilu jurdil akan bergerak. Dalam waktu dekat mereka akan me-launching website khusus, dengan konsep bekerjanya seperti wikileaks dan wikipedia.

    "Website tersebut akan mudah diakses oleh rakyat. Rakyat bisa mengawasi di TPS dan menjaga TPS," jelasnya.

    "Kemudian setiap orang yang memiliki handphone bisa mengirimkan hasil pemilu di setiap TPS. Ini akan menjadi kekuatan mobilisasi rakyat pasca jatuhnya Soeharto tahun 1998 yang lalu," kata Hasto.


    Files Download :

Related Posts

  • sample9