Senin, 25 Maret 2019 | Selamat Datang di Website Kesbangpol...
 
 

Pemilu Dorong Pertumbuhan Ekonomi 2014

  • GURU Besar Ilmu Ekonomi Institut Pertanian Bogor (IPB), Hermanto Siregar menilai prospek ekonomi Indonesia tahun 2014 tetap tumbuh positif. Hal tersebut dikarenakan dua momentum penting yakni Pemilu 2014 dan depresiasi rupiah.

    Pemilu 2014 akan berdampak pada peningkatan belanja Pemilu sehingga akan meningkatkan belanja masyarakat. Sementara depresiasi rupiah bisa menjadi peluang karena kecenderungannya bisa meningkatkan ekspor.

    “Belanja pemilu dan peningkatan ekspor akan mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Hermanto Siregar kepada Jurnal Nasional, Minggu (29/12).

    Anggota Komite Ekonomi Nasional ini mengingatkan bahwa depresiasi rupiah tidak boleh terus melemah. “Nilai rupiah tidak boleh terpuruk hingga Rp13-14 ribu,” katanya.

    Untuk mencegah melemahnya nilai tukar rupiah, Hermanto mengatakan perlu mengurangi impor. Sebab impor yang tinggi akan mendorong terjadinya inflasi dan membuat rupiah menjadi lemah.

    “Yang penting adalah kendalikan impor, utamanya impor bahan bakar minyak,” katanya.

    Wakil Rektor IPB ini, meminta pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk menjaga jalur distribusi agar berjalan lancar. “Jika jalur distribusi terganggu maka akan mendorong inflasi,” katanya.

    Dia juga mengingat pemerintah pusat dan Pemda untuk bekerja lebih keras dalam mengantisipasi dampak ekonomi global. Ia melihat kebijakan pemerintah masih kurang untuk mengantisipasi dampak ekonomi global. “Perhatian pemerintah lebih condong ke politik,” kata dia.

    Pada kesempatan itu, Hermanto meminta dunia usaha dan swasta untuk tetap memenuhi kebutuhan domestik. Dengan Pemilu 2014, kata dia, belanja rumah tangga juga akan meningkat. “Ini harus dijawab oleh pihak swasta atau perusahaan swasta,” tegas Hermanto.

    Selain itu, dia menjelaskan pelemahan nilai rupiah berdampak pada meningkatnya permintaan. Karena itu, menurut Hermanto, harus diiringi dengan meningkatkan daya saing dan produktifitas ekspor.

    “Dengan demikian laba akan bertambah dan bisa digunakan untuk meningkatkan lagi daya saing dan kualitas produk,” katanya.

    Menyangkut kebijakan Amerika Serikat yang akan mengurangi stimulus ekonomi mulai Januari 2014, Hermanto mengatakan perlu membuat kebijakan antisipasi karena dampaknya pada ekspor dan impor serta memengaruhi nilai tukar dan suku bunga.

    “Dilaksanakan atau tidak kebijakan AS itu tergantung AS. Tapi yang perlu kita dilakukan adalah membuat kebijakan antisipasi,” katanya.

    Kepada Bank Indonesia, Hermanto juga mengingatkan agar harus antipastif dalam melihat kebijakan AS trsebut. “Jika melakukan penyesuaian suku bunga, timing-nya harus tepat, tidak boleh terlambat,” katanya.

    Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan tidak perlu cemas dan takut terhadap gejolak perekonomian global. “Kita harus tetap optimistis,” kata Presiden SBY pada Perayaan Natal Nasional, Jumat (27/12) malam.

    “Sama dengan situasi lima tahun yang lalu, perayaaan Natal kali ini kita selenggarakan di tengah gejolak perekonomian global. Ini adalah ujian baru bagi perekonomian kita,” kata Presiden.

    Dalam menyikapi gejolak ini, Presiden yakin dan percaya, bahwa kita tidak akan terseret jauh dalam pusaran krisis-krisis global, jika sungguh-sungguh menjaga persatuan, melangkah bersama, mengembangkan segenap potensi yang kita miliki, dan bekerja lebih keras lagi.

    Menurut Presiden SBY, pemerintah dengan gigih, bersama komponen-komponen bangsa yang lain, telah dan terus berupaya mengatasi gejolak baru perekonomian ini.

    “Berbagai keputusan, kebijakan dan aksi yang cepat dan tepat telah dilaksanakan pemerintah, untuk tetap menjaga pertumbuhan positif dari perekonomian kita,” katanya. - See more at: http://www.jurnas.com/news/118621/Pakar_Pemilu_Dorong_Pertumbuhan_Ekonomi_2014/1/Nasional/Pemilu_2014#sthash.RfdPNhpS.dpuf


    sumber : jurnas.com


    Files Download :

Related Posts

  • No Related posts.