Kamis, 21 Maret 2019 | Selamat Datang di Website Kesbangpol...
 
 

Pembelian Suara Masih Terus Pengaruhi Kualitas Pemilu

  • Manajer peneliti lembaga survei Polling Center Heny Susilowati mengatakan, praktek pembelian suara masih terus mempengaruhi kualitas pemilihan umum (pemilu).

    "Survei ini menegaskan, praktek pembelian suara masih sering berlangsung. Banyak responden yang tidak mengetahui bahwa pembelian suara adalah sesuatu yang melanggar hukum," ujarnya dalam konferensi pers "Survei Polling Center: Antusiasime Tinggi, Tetapi Informasi Pemilih Masih Diperlukan dan Politik Uang Mempengaruhi Kualitas Pemilu", Jakarta Selatan, Kamis (19/2).

    Dipaparkan, sebagian besar responden mengaku cenderung akan menerima uang dan hadiah dari partai politik (parpol), calon, dan tim sukses tersebut dibandingkan menolak.

    "Setidaknya ada 43,5% responden mengatakan, mereka atau keluarganya pernah mengalami praktek pembelian suara," tuturnya.

    Namun, meskipun begitu, temuan survei juga menyatakan, responden memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk memilih berdasarkan hati nurani dibandingkan memilih pihak yang memberi uang atau hadiah.

    Sebanyak 46,9% responden mengatakan akan memilih calon berdasarkan hati nurani dan bukan karena uang atau hadiah yang diberikan.

    Temuan lain, yakni sebanyak 25,6% responden mengatakan tidak akan memilih calon manapun yang berusaha untuk membeli suara. Sementara 14,5% responden mengaku akan memberikan suara untuk pihak manapun yang memberi  uang atau hadiah untuk mendapatkan suara.

    "Hanya 8,3% responden mengatakan akan melaporkan kasus politik uang. Alasan utama responden tidak akan melaporkan adalah karena 34,8% responden tidak ingin mendapatkan masalah," ucapnya.

    Selain itu, lanjut dia, 20 persen responden mengaku tak melaporkan karena faktor adanya persepsi bahwa proses pelaporannya akan rumit, dan 18,9 persen menyatakan mereka tidak paham kepada siapa mereka harus melaporkan.

    Selain terkait politik uang, temuan survei juga menunjukkan bahwa setidaknya 93,2% responden berniat memberikan suara pada pemilu 2014.

    Faktor kandidat akan memengaruhi keinginan responden untuk memberikan suaranya. Terdapat 88,3% responden yang memiliki keinginan mengikuti pemilihan tanpa mempertimbangkan kandidatnya, dan terdapat 11,1% responden yang akan mengikuti pemilihan jika ada kandidat yang dirasa cocok.

    Survei ini dilakukan pada 17-26 September, melalui wawancara tatap muka dengan sampel acak sebanyak 460 responden yang telah memiliki hak pilih. Dengan cakupan lima kotamadya, 36 kecamatan serta 46 kelurahan di enam provinsi yakni Aceh, DKI Jakarta, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan dengan margin of error 4,5% dengan tingkat kepercayaan 95%.


    Files Download :

Related Posts

  • sample9

    Pemilu 2014, Target Teroris

    Terorisme di Indonesia bak amoeba yang dengan cepatnya membelah diri sehingga terus berkembang dan bertambah banyak. Itu sebabnya, Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) mengingatkan masyarakat agar selalu waspada terhadap ancaman…
  • sample9

    Inilah 14 Kerawanan Pemilu 2014

    Lembaga Indonesian Parliamentary Center menyebutkan 14 kerawanan yang harus diwaspadai dalam penyelenggaraan Pemilu Legislatif 2014. "Ada 14 potensi kerawanan yang dapat mengganggu kualitas penyelenggaran Pemilu Legislatif 2014," kata Sulastio…
  • sample9

    JPPR Harapkan Partisipasi Masyarakat Pantau Pemilu 2014

    Deputi Internal Jaringan Pendidikan Pemilih Untuk Rakyat (JPPR), Masyukurudin Hafidz mengatakan media sosial selama ini cukup efektif dalam penyebaran informasi dan pemantauan pemilu. Diharapkan melalui media sosial juga bisa memberi…
  • sample9

    Pengamat: Caleg Muda Meriahkan Pemilu 2014

    Pengamat bidang sosial politik, Ihsanudin Husin berpendapat, kehadiran calon anggota legislatif dari kalangan muda, sangat bagus untuk memeriahkan Pemilu 2014."Apalagi kalau calon anggota legislatif (caleg) muda tersebut memiliki kualitas dan…