Rabu, 20 Maret 2019 | Selamat Datang di Website Kesbangpol...
 
 

Jelang Pemilu, Waspadai Upaya Delegitimasi Lembaga Tinggi Negara

  • Kejadian rusuh yang terjadi di ruang sidang Mahkamah Konstitusi (MK) dipandang secara berbeda oleh Anggota Komisi Hukum DPR, Fahri Hamzah.

    Menurut Fahri, dirinya justru khawatir bahwa kejadian rusuh itu merupakan bagian dari gejala delegitimasi terhadap MK. Tujuannya agar seolah MK tidak bisa diandalkan lagi.

    "Hal ini patut dicurigai sebagai upaya yang berlanjut untuk merusak kredibilitas lembaga negara yang inti," kata Fahri Hamzah di Jakarta, Jumat (15/11).

    Menurutnya, penggembosan MK ini mulai berbahaya dan mungkin akan terus didramatisasi oleh kelompok yang menginginkan agar sebelum hingga saat pemilu 2014 nanti, tak ada lagi lembaga negara yang dianggap kredibel.

    Apabila hal demikian terjadi, maka dapat membuat proses transisi kekuasaan politik di 2014 mengalami jalan buntu.

    "Saya harap semua pihak harus mewaspadai gejala tersebut," tegasnya.

    Secara khusus, Fahri menyatakan dirinya meminta kepada Kapolri yang baru agar memberikan penjagaan khusus kepada gedung MK, khususnya dalam masa persidangan.

    "Sehinga proses persidangan tidak dikacaukan oleh intervensi para pengacau," ujarnya.

    Seperti diketahui, Gedung MK dilanda rusuh saat majelis hakim membacakan putusan sengketa Pilkada Daerah Provinsi Maluku. Pihak berperkara atau pemohon dalam PHPU Maluku tersebut berjumlah empat pasangan.

    Mereka adalah pasangan nomor urut satu Abdullah Tuasikal - Hendrik Lewerissa, pasangan nomor dua Jacobus - F. Puttilehalat, pasangan William B. Noya - Adam Latuconsina dan pasangan nomor urut empat Herman Adrian Koedoeboen - Daud Sangadji.

    Keributan tersebut sendiri bermula ketika majelis hakim menolak permohonan pasangan nomor urut empat Herman Adrian Koedoeboen - Daud Sangadji.

    Massa yang tidak terima dengan putusan tersebut kemudian berteriak-teriak dengan kuat di luar sidang pleno di lantai dua. Saat itu sidang masih terus berlangsung dan berlanjut untuk putusan permohonan Abdullah Tuasikal - Hendrik Leweriss.


    Files Download :

Related Posts