Minggu, 17 Februari 2019 | Selamat Datang di Website Kesbangpol...
 
 

Pemilu Kaum Muda

  • Dalam berbagai pidato para pejabat dan elite politik, peran kaum muda dalam pembangunan bangsa tak penah absen disebut. Kaum muda digambarkan sebagai komponen penting memajukan bangsa. Tetapi, dalam praktiknya, kaum muda seolah dimarginalkan. Mereka dianggap belum berpengalaman, kurang matang, emosional, serta masih sederet alasan lain untuk meminimalkan, bahkan meniadakan, peluang kaum muda berkiprah pada kepemimpinan di tingkat lokal dan nasional.

    Kita seolah lupa bahwa Indonesia bisa merdeka karena para pemuda-pemudi yang gigih berjuang, bahkan tergolong nekat. Tonggak sejarah pergerakan bangsa yang diawali oleh pendirian Boedi Oetomo, kemudian kelahiran Sumpah Pemuda, Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, hingga kesuksesan Reformasi 1998 yang menumbangkan rezim Orde Baru, digerakkan oleh kaum muda yang kala itu berusia 18-26 tahun. Kita pun tak boleh melupakan aksi nekat para pemuda, seperti Sukarni, Chaerul Saleh, dan Wikana, yang sempat “menculik” dan memaksa dwi-tunggal Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

    Tetapi beberapa waktu belakangan ini, kepemimpinan kaum muda mulai melempem, khususnya dalam bidang politik. Bertolak belakang dengan bidang ekonomi dan teknologi, kaum muda seolah apatis terhadap politik. Organisasi kepemudaan yang pada masa Orde Baru dan Reformasi memiliki gaung yang cukup lumayan, belakangan sayup-sayup terdengar, bahkan tenggelam.

    Tinggal segelintir kaum muda yang peduli pada pembangunan kehidupan politik yang lebih sehat. Kondisi ini tak lepas dari tak adanya political will dari elite politik yang memberi ruang bagi kaum muda untuk mengaktualisasikan dirinya. Meski demikian, kita tak boleh putus asa untuk kembali menggelorakan semangat kaum muda agar lebih peduli pada pembangunan bangsa di bidang politik. Setidaknya ada tiga langkah yang bisa ditempuh agar kaum muda bisa lebih peduli pada dunia politik.

    Pertama, sosialisasi dan membangun kepedulian tentang pentingnya partisipasi dalam bidang politik melalui penggunaan hak suara dalam pemilihan umum (pemilu). Kaum muda, khususnya siswa SMA dan sekolah sederajat, mahasiswa, pekerja hingga eksekutif muda, hendaknya disadarkan tentang pentingnya suara mereka dalam pemilu. Dominasi politik partai politik (parpol) tertentu di lembaga legislatif dan eksekutif bisa dikurangi dengan cara tidak memilih lagi parpol yang kadernya korup serta ingkar memenuhi janji-janji kampanye Pemilu 2009. Kaum muda harus berani menghukum parpol yang hanya bekerja untuk kepentingan kelompoknya, ketimbang bersama-sama berjuang memperbaiki taraf hidup rakyat.

    Demikian juga saat pemilihan kepala daerah (pilkada) serta pemilihan umum presiden dan wapres (pilpres). Kita tak perlu lagi memberikan suara kepada petahana (incumbent) yang hanya pintar mengobral janji, tetapi minim realisasi. Sudah cukup mereka diberi waktu lima tahun untuk memimpin daerah dan bangsa ini. Kita harus berani memberi kesempatan kepada wajah-wajah baru menjadi pemimpin bangsa. Bahkan, kita yakin cukup banyak “kaum muda” yang maksimal berusia maksimal 50 tahun memiliki kapabilitas dan integritas menjadi capres dan cawapres dalam Pilpres 2014.

    Kedua, parpol harus memberi kesempatan kepada kaum muda untuk berkiprah melalui struktur partai di berbagai tingkatan dan organisasi sayap. PDI-P misalnya, memiliki Taruna Merah Putih, Golkar dengan Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), serta Partai Nasdem melalui Garda Pemuda Nasdem. Keterlibatan kaum muda dalam organisasi seperti itu akan semakin mendekatkan mereka pada dunia politik.

    Ketiga, elite parpol, terutama ketua umum, hendaknya tak egois dan membuka mata terhadap potensi anak-anak muda. Dalam Pilpres 2014, parpol tak perlu ragu mengajukan kader berusia maksimal 50 tahun menjadi capres dan cawapres. Bila itu dilakukan, kita yakin kelompok muda tak akan menyia-nyiakan hak suara dengan menjadi golongan putih (golput) karena generasi mereka yang bersemangat dan berjiwa muda ikut bertarung menjadi pemimpin bangsa periode 2014-2019.

    Apabila semua itu terwujud, bangsa ini tak perlu terjebak pada gerontokrasi, yakni pemerintahan yang dikendalikan kaum sepuh! Mengutip pendapat Bung Karno, “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Kita pun berharap presiden-wapres terpilih 2014 adalah “kaum muda”, sehingga Indonesia bisa mengguncang dunia.


    Files Download :

Related Posts

  • sample9

    Pemilu 2014, Target Teroris

    Terorisme di Indonesia bak amoeba yang dengan cepatnya membelah diri sehingga terus berkembang dan bertambah banyak. Itu sebabnya, Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) mengingatkan masyarakat agar selalu waspada terhadap ancaman…
  • sample9

    Inilah 14 Kerawanan Pemilu 2014

    Lembaga Indonesian Parliamentary Center menyebutkan 14 kerawanan yang harus diwaspadai dalam penyelenggaraan Pemilu Legislatif 2014. "Ada 14 potensi kerawanan yang dapat mengganggu kualitas penyelenggaran Pemilu Legislatif 2014," kata Sulastio…
  • sample9

    JPPR Harapkan Partisipasi Masyarakat Pantau Pemilu 2014

    Deputi Internal Jaringan Pendidikan Pemilih Untuk Rakyat (JPPR), Masyukurudin Hafidz mengatakan media sosial selama ini cukup efektif dalam penyebaran informasi dan pemantauan pemilu. Diharapkan melalui media sosial juga bisa memberi…
  • sample9

    Pengamat: Caleg Muda Meriahkan Pemilu 2014

    Pengamat bidang sosial politik, Ihsanudin Husin berpendapat, kehadiran calon anggota legislatif dari kalangan muda, sangat bagus untuk memeriahkan Pemilu 2014."Apalagi kalau calon anggota legislatif (caleg) muda tersebut memiliki kualitas dan…