Kamis, 23 Februari 2017 | Selamat Datang di Website Kesbangpol...
 
 

Arti Kepahlawanan pada Masa Kini

  • Cinta Tanah Air, rela berkorban, dan berani merupakan nilai-nilai kepahlawanan yang ingin dimiliki masyarakat.

    Keinginan melaksanakan nilai kepahlawanan harus dimulai dari lingkup terkecil dalam keluarga.

    Nilai-nilai itulah yang diperlukan untuk menjaga keutuhan bangsa di tengah isu suku, agama, ras, dan antar-golongan.

    Nilai kepahlawanan itu berupa kerelaan berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara. Nilai-nilai itu relevan pada masa kini untuk menjaga persatuan, khususnya bagi generasi muda.

    Cinta Tanah Air menjadi salah satu nilai yang paling ingin dicapai oleh enam dari 10 responden jajak pendapat.

    Selain cinta Tanah Air, sikap rela berkorban dan keberanian merupakan urutan berikutnya dari nilai-nilai kepahlawanan yang ingin dimiliki responden.

    Cinta Tanah Air berarti cinta pada negeri tempat memperoleh penghidupan. Seseorang yang cinta pada Tanah Air senantiasa berusaha agar negerinya tetap aman, damai, dan sejahtera.

    Publik menilai bahwa untuk melaksanakan nilai-nilai perjuangan kepahlawanan dalam kehidupan sehari-hari dapat dimulai dari lingkup terkecil, yaitu keluarga.

    Lima dari sepuluh responden menyatakan hal itu. Menanamkan semangat berkorban, disiplin, kebersamaan, dan motivasi untuk berprestasi bagi keluarga merupakan nilai-nilai yang dapat diaplikasikan dalam keluarga.

    Menanamkan nilai kepahlawanan dari lingkup terkecil dapat dimulai dari memberi pemahaman arti penting dari pengabdian, pengorbanan, kerja keras, dan mengerti kepentingan orang banyak, bukan kepentingan pribadi.

    Namun, untuk dapat memenuhi upaya itu tidak mudah. Keinginan menerapkan nilai-nilai perjuangan kepahlawanan dalam kehidupan bermasyarakat mengalami sejumlah hambatan.

    Hampir separuh (48,9 persen) responden menyebut hambatan utama adalah modal atau dana.

    Selanjutnya, hambatan kemampuan atau keterampilan (26,5 persen) dan hambatan mendapat izin dari keluarga (9,6 persen).

    Di masa kini, makna pahlawan dapat diartikan sebagai seseorang yang menonjol karena mempunyai jiwa yang berani, rela berkorban, dan tidak hanya mementingkan diri sendiri.

    Banyak profesi bisa dikategorikan pahlawan, seperti guru, aktivis lingkungan hidup, dan relawan kemanusiaan. Hampir seluruh responden (93,2 persen) menilai perilaku berpartisipasi dalam aksi-aksi kemanusiaan sangat layak dikategorikan sebagai tindakan kepahlawanan.

    Sikap meningkatkan taraf hidup sosial ekonomi masyarakat juga dianggap sebagai sikap yang pantas disebut sebagai tindakan kepahlawanan, seperti dinyatakan oleh 92,6 persen responden.

    Sikap lainnya, yakni tindakan anti korupsi atau anti suap, dinilai sebagai tindakan pahlawan oleh 69,8 persen responden.


    Penurunan

    Selain aspek positif kepahlawanan, terekam pula kondisi memprihatinkan masa kini.

    Hasil jajak pendapat Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) yang dilaksanakan pada 22-24 Oktober 2016 memperlihatkan pandangan menurunnya nilai-nilai kepahlawanan dalam masyarakat dan elite politik. Tercatat separuh bagian responden (50,6 persen) yang mengungkapkan hal ini.

    Sebanyak 46,2 persen responden mengungkapkan nilai-nilai kepahlawanan dalam profesi tokoh politik, termasuk anggota DPR, masih lemah.

    Salah satu faktor utama penyebab hal tersebut adalah aparat penegak hukum dan masyarakat yang tersekat pada pembudayaan sadar hukum.

    Kesadaran hukum dalam masyarakat kurang ditunjang aspek pendidikan, sosial, dan sistem yang berlaku.

    Meskipun terjadi penurunan nilai-nilai kepahlawanan dalam masyarakat dan elite politik, di sisi lain, jajak pendapat juga menemukan fakta tentang meningkatnya salah satu aspek kepahlawanan.

    Dari jawaban responden terpantau cukup besarnya keberanian masyarakat masa kini untuk melaporkan berbagai tindak melanggar hukum.

    Tercatat hampir separuh (48 persen) responden menyatakan kesediaannya dalam inisiatif mengungkap tindakan melanggar hukum, seperti korupsi, narkoba, dan kriminalitas.

    Secara umum, hasil jajak pendapat menunjukkan pemahaman nilai-nilai kepahlawanan masyarakat berkutat pada dua hal mendasar, yaitu aspek rasa patriotisme dan rasa nasionalisme.

    Responden yang memahami nilai-nilai kepahlawanan pada sisi patriotisme mencapai 25,1 persen. Sementara nasionalisme 14,2 persen dan yang menilai keduanya 58,8 persen.

    Penjajahan ekonomi

    Alih-alih sudah bebas merdeka, mayoritas responden berpandangan bahwa dominasi ekonomi oleh pihak asing terhadap Indonesia merupakan salah satu bentuk penjajahan baru.

    Lemahnya daya saing dan rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat dipersepsi sebagai salah satu bentuk penjajahan masa kini.

    Selain ekonomi, pada urutan berikutnya konsumerisme juga dipandang sebagai penjajahan masa kini. Sementara penjajahan ideologi hanya dipersepsi oleh 12,1 persen responden.

    Data Laboratorium Ketahanan Nasional Lemhannas (Labkurtannas) menunjukkan bahwa terjadi penurunan ketahanan ideologi di 12 provinsi pada 2015 jika dibandingkan dengan tahun 2014.

    Peringatan Hari Pahlawan setiap 10 November tetap dinilai publik sebagai momentum penting untuk mengingat jasa-jasa pahlawan dan menanamkan ingatan kepada rakyat, khususnya bagi generasi muda.

    Hampir semua responden menilai, peringatan Hari Pahlawan sangat bermanfaat untuk menumbuhkan rasa cinta kepada para pahlawan.

    sumber : kompas.com

Related Posts